Apakah Anda pernah mendapatkan tawaran investasi dari rekan atau kerabat, yaitu dengan hanya sekian ratus ribu atau sekian juta rupiah, modal tersebut akan kembali dan bertambah berkali-kali lipat dalam beberapa bulan saja?

Namun demikian dia menambahkan syarat bahwa untuk mendapatkan keuntungan itu, Anda harus menawarkan produk investasi tersebut ke beberapa rekan yang lain? Tidak lupa dengan iming-iming ketika mencapai titik level tertentu, Anda tinggal ongkang-ongkang kaki dan memanen keuntungan.

Sebelum berpikir bahwa cara tersebut adalah ‘investasi’, cobalah pikirkan kembali, sudah betul kah cara investasi yang Anda lakukan? Atau jangan-jangan Anda tengah terjerat dalam ‘money game’ berkedok investasi, karena sesungguhnya, dalam berinvestasi harus ada setidaknya empat unsur penting:

  1. Penanaman modal pada suatu instrumen investasi,
  2. Adanya harapan pada tingkat keuntungan tertentu,
  3. Ada risiko tertentu yang juga harus ditanggung, serta
  4. Adanya jangka waktu tertentu untuk dapat mencapai keuntungan tersebut.

Merujuk pada keempat hal di atas, dalam money game tentu saja tidak akan ada penanaman modal pada suatu instrumen investasi. Yang ada hanya perpindahan uang dari satu akun ke akun lain tanpa disertai pengelolaan di dalamnya. Kondisi tanpa kepastian ini akan menyebabkan kerugian atau hilangnya uang Anda.

Tidak hanya itu iming-iming keuntungan yang begitu cepat tanpa informasi risiko juga perlu dicermati sebagai sebuah upaya perputaran uang yang tidak sehat.

Lalu bagaimana sebaiknya memilih cara investasi dan manajemen aset yang tepat?

Ada beberapa factor yang perlu Anda pertimbangkan sebelum memulai investasi, di antaranya adalah:

1. Tetapkan tujuan investasi keuangan dan jangka waktu yang diperlukan

Tentukan apa yang ingin Anda capai dengan berinvestasi. Beberapa dari Anda mungkin melirik investasi untuk tujuan jangka panjang, seperti mempersiapkan dana pensiun atau mempersiapkan dana pendidikan anak ketika kuliah nanti.

Namun, tidak jarang investor menggunakannya untuk tujuan jangka pendek, misal memperbarui mobil dengan tipe yang diidamkan, atau merenovasi rumah tinggal.

Dengan mengetahu apa tujuan investasi dan jangka waktunya, Anda akan lebih memudah menentukan instrument investasi apa yang akan dipilih.

Jika investasi Anda ditujukan untuk jangka pendek (1-2 tahun), instrumen investasi yang tepat adalah yang relatif stabil dan tidak terlalu fluktuatif, seperti deposito, logam mulia, atau reksadana—baik pasar uang atau pendapatan tetap.

Sebaliknya, jika Anda memiliki tujuan jangka panjang dengan rentang waktu lebih dari 5 tahun, Anda bisa mempertimbangkan investastasi dalam bentuk saham, property (tanah dan bangunan), serta reksadana saham dan reksadana campuran sebagai langkah manajemen aset untuk Anda.

Saat memutuskan untuk berinvestasi, Anda dituntut untuk lebih disiplin dan memiliki komitmen yang kuat untuk tidak menyentuh investasi Anda sampai tenggat waktu yang ditentukan.

Jangan sampai Anda tergoda untuk menarik investasi hanya karena iming-iming mobil baru atau tiba-tiba ingin melancong ke luar negeri.

2. Pahami profil risiko yang bisa Anda toleransi

Langkah kedua setelah menentukan tujuan investasi adalah memahami seberapa jauh toleransi Anda terhadap risiko yang mungkin dihadapi, khususnya kondisi kesabaran dan psikologis yang Anda tatkala dihadapkan pada pasar yang naik turun.

Beberapa orang memiliki kesabaran dan ketenangan yang terkendali tidak peduli nilai investasinya berada di titik terendah maupun di titik tertinggi. Di sisi lain, ada sebagian orang yang tidak bisa tidur tenang menghadapi fluktuasi pasar yang bergejolak. Mereka umumnya berusaha memastikan uang mereka aman dan stabil.

 Kira-kira, termasuk tipe investor yang mana kah Anda?

Apabila Anda tergolong sabar, memiliki kemampuan analisis pasar yang baik, serta mampu melewati fluktuasi nilai investasi yang drastis, maka instrumen investasi yang tepat untuk Anda adalah reksadana saham.

Sebaliknya, jika Anda tidak suka mengambil risiko besar dan mengharapkan kondisi stabil, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap bisa jadi adalah cara investasi yang sesuai dengan karakter Anda.

Lalu, bagaimana jika Anda tidak yakin dengan profil risiko sendiri? Anda mungkin berharap kondisi pasar stabil, tetapi sesekali penasaran ingin mengambil risiko yang lebih jauh.

Jika berada di posisi ini, solusinya Anda bisa membagi sepertiga hingga separuh investasi Anda pada reksa dana yang dinilai aman (reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap). Sementara sisanya bisa dialokasikan pada reksa dana saham atau campuran.

3. Pertimbangkan kemampuan untuk mengelola keuangan

Kebanyakan orang mengira bahwa investasi hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki harta berlebih. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, mengingat jumlah uang yang diinvestasikan tidak sedikit. Namun bukan berarti golongan menengah dengan pendapatan yang pas-pasan tidak bisa berinvestasi.

Meski beda dengan menabung, namun berinvestasi juga membutuhkan konsistensi selayaknya orang menabung. Anda harus memiliki kemauan yang keras untuk menyisihkan sebagian pendapatan, serta fokus dan mampu menahan diri untuk tidak mengambil atau menggunakannya di pertengahan masa investasi.

Misal, Anda menyisihkan 1-2 juta perbulan untuk diinvestasikan secara rutin, maka fokuslah pada target tersebut.

Cara paling mudah untuk menyisihkan uang secara rutin dan kontinyu adalah dengan membatasi atau mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Seperti misalnya mengurangi frekuensi makan di luar, mengurangi rokok, menghindari penggunaan kartu kredit, atau membayar tagihan tepat waktu supaya tidak menambah denda.

Dengan menata keuangan secara lebih baik, tujuan awal Anda melakukan investasi akan lebih mudah tercapai. Untuk itu rencanakanlah sedini mungkin dan cermatlah memilih instrumen investasi. Dengan demikian Anda tidak terjerat investasi abal-abal yang berujung pada money game yang merugikan.

RELEATED ARTICLES